PENDAHULUAN Setiap manusia mencita-citakan keselamatan, apapun bentuk dan ragamnya keselamatan itu. Sekawanan pencuri yang sedang melakukan operasi perampokan, mengharapkan selamat dari sergapan alat keamanan Negara. Seorang pezina baik laki-laki maupun perempuan mengharapkan selamat dari amukan masyarakat, karena dia telah berbuat zinah dengan isteri atau suami orang lain. Seseorang yang suka melacur dengan perempuan lacur mengharapkan selamat dari ancaman penyakit “Raja Singa’. Tidak anyal pula si Raja Koruptor juga mengharapkan selamat dari tindakan hokum Negara. Dan seterusnya. Jelas sekali, apapun bentuk, corak dan ragam perbuatan manusia, dia selalu mendambakan keselamatan. Sekalipun pada saat yang bersamaan seseorang yang melakukan kejahatan menyadari bahwa perbuatannya itu melawan hokum, malah justeru karena itulah dia sangat mendambakan selamat atau lolos dari tindkan hokum. Mungkin, sekali, dua, atau tiga kali dia selamat selanjutnya apa yang tidak dia inginkan, yang dia takuti terjadi menimpa dirinya atau kawannya. Si Pezina tertangkap basah, si tukang lacur terserang raja singa, siperampok, situkang korupsi, ditindak Negara. Dan seterusnya. Dakwah merupakan suatu gerakan penyelamat bagi keadaan manusia diatas tadi karena dengan metode dakwah yang tepat maka kesemua orang diatas dapat tertolong mungkin dengan catatan langkah-langkah dan metode yang digunkan sida’I harus dilakukan dengan sungguh-sungguh tanpa ada unsure pencarian materi atau ada pengharapan yang lainnya, mungkin bagi da’I yang professional seorang penjahat tetkala mencari cara untuk selamat dari kejaran polisi pada awalnya mungkin harus dihadapi dengan lemah lembut yang selanjutnya perlu diberi gebrakan agar penjahat tersebut dapat tersadar begitupun mad’u-mad’u lainnya artinya seorang da’I itu harus bisa lembut dimana ia harus lembut dan bisa keras apabila saatnya harus keras. Dakwah Islam merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh manusia karena firman dan petunjuk Tuhan tidak akan membuming keseantero jagat kalau tidak disebarluaskan oleh seorang da’I, selain dakwah Islam itu kewajiban dakwah juga merupakan kebutuhan karena keluarga, masyarakat bahkan bangsa dan negaranya bisa maju tetkala ajaran kebenaran dapat di transformsikan kepada khalayak lain. Dakwah yang saat ini dilakukan oleh kebanyakan da’I itu bersifat statis, dari situ kesitu lagi, yakni dari kita kekita lagi. Kita sudah cukup merasa puas jika kita berceramah menyampaikan risalah da’wah dihadiri oleh orang banyak padahal yang hadir itu adalah sudah saudara kita semua. Dengan demikian dakwah kita bersifat rutine belaka dan ditanggapi ummat sebagai sesuatu kewajiban yang mempunyai konsekwensi dan pengorbanan. Pada akhirnya mereka tidak merasa berkewajiban untuk berinfaq fisabilillah. Mereka umat sudah cukup meraa beribadat apabila dating mengunjungi setiap ada kegiatan/undangan menghadiri pengajian/dakwah. Menurut Ibnu Rusyd ,dakwah dengan hikmah artinya dakwah dengan pendekatan substansi yang mengarah kepada falsafah dengan nasihat yang baik, yang berarti retorika yang efektif dan populer, dan dengan mujadalah yang lebih baik, maksudnya ialah metode dialektis yang unggul. Sesuai dengan ungkapan bijak dalam bahasa Arab bahwa “bahasa kenyataan adalah lebih fasih dari pada bahasa ucapan”, kesadaran tentang pentingnya dakwah dengan bahasa kenyataan ini dapat diterjamahkan dengan pendekataan esensi, tidak semata pendekataan formalitas saja, sebab menurut Nurcholis Madjid , justru masyarakat yang cerdas dan maju umumnya lebih mementingkan esensi ini, bukan segi formalitas belaka, sekalipun segi-segi formal itu ditinggalkan sama sekali. PEMBAHASAN A. Arti Dakwah Kata dakwah, walaupun dapat dilihat dari segi kosa katanya berbentuk kata benda (ism), dalam pengertiannya, karena termasuk diambil (musytaq) dari fi’il muta’adi, mengandung nilai dinamika, yakni ajakan, seruan, panggilan, permohonan. Makna-makna tersebut, mengandung unsur usaha-usaha atau upaya yang dinamis . Adapun pengertian dakwah itu sediri dapatlah dirumuskan sebagai berikut: “ Segala usaha dan kegiatan yang disengaja dan berencana dalam ujud sikap, ucapan dan perbuatan yang mengandung ajakan dan seruan, baik langsung atau tidak langsung ditunjukan kepada orang perorangan, masyarakat amupun golongan supaya tergugah jiwanya, terpangil hatinya kepda ajaran Islam untuk selanjutnya mempelajari dan menghayati serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari”. Secara subtansial-filosofis, dakwah adalah segala rekayasa dan rekadaya untuk mengubah segala bentuk penyembahan kepada selain Allah menuju keyakinan tauhid, mengubah semua jenis kehidupan yang timpang kearah kehidupan yang lempang, yang penuh degan ketenangan batin dan kesejahteraan lahir berdasarkan nilai-nilai Islam. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara , dakwah ialah aktivitas menciptakan perubahan sosial dan pribadi yang didasarkan pada tingkah laku pelaku pembaharunya. Syekh Ali Mahfuzh salah seorang murid seykh Muhammad Abduh sebagai pencetus gagasan dan penyusun pola ilmiyah Ilmu Dakwah memberi batasan mengenai dakwah itu sebagai berikut: Artinya: “Membangkitkan kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari pekerjaan yang mungkar, supaya mereka memperoleh keberuntungan kebahagiaan di dunia dan di akhirat”. Kalau memakai terminologis akademis, dakwah dalam arti makna ekuivalen dengan dengan social reconstruction (rekontruksi sosial). Sosial dalam arti ekonomi, budaya, pendidikan, kemasyarakatan, dan lainnya. Proses rekontruksi masyarakat yang multidimensional, menurut Amien Rais, jatuhnya sama dengan dakwah. Dalam prespektif agama, dakwah itu menarik karena tidak akan pernah ada habis-habisnya. Proses konfrontatif antara kebenaran melawan kebatilan, kema’rufan melawan kemungkaran, calon penghuni suga dan calon penghuni neraka. Sedangkan ungkapan Murshalin Dahlan “Idealisme dakwah adalah menyelamatkan ummat manusia dari kehancurannya dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulnya jadi artinya, dakwah adalah perjuangan, perjuangan menuntut konsekwensi dan pengorbanan. Sering orang meyalah artikan tentang da’wah dari sumber al-quran ayat 125 terutama kata hikmah, yaitu bahwa hikmah sering diartikan dengan mengecilkan arti dan tanggung jawab dakwah tersebut B. Dakwah Islam Antara Kewajiban dan Kebutuhan Dakwah ibarat lentera kehidupan, yang memberi cahaya dan menerangi hidup manusia dari nestapa kegelapan. Tatkala manusia dilanda kegersangan spiritual, dengan rapuhnya akhlak, maraknya korupsi, kolusi dan manipulasi, dakwah diharapkan mampu memberikan cahaya terang, maraknya berbagai ketimpangan, kerusuhan, kecurangan dan sederet tindakan tercela lainnya, disebabkan terkikisnya nilai-nilai agama dalam diri manusia. Tidak berlebihan jika dakwah merupakan bagian yang cukup penting bagi umat manusia saat ini. Namun dalam realitanya, dakwah yang hadir ditengah-tengah umat saat ini masih dominana dengan retorika. Artinya, kita belum bisa mewujudkan satunya kata dengan tindakan betapa banyak orang yang begitu fasih mengucapkan kejujuran, keadilan, anti korupsi dan lain-lain, tapi dalam realitanya larut dalam ketidak jujuran, ketidak adilan, dan korupsi. . kalau demikian maka pesan-pesan dakwah yang disampaikan pun tampkanya barulah sebatas kata-kata indah, sementara esensinya belum teraktualisasikan. Dalam menyampikan pesan-pesan wakdah, juru dakwah (da’i) yang kini banyak dari kalangan birokrat dan politisi, selalu menganjurkan amar ma’ruf nahi munkar . mereka menganjurkan pola hidup sederhana, mencanangkan pemberantasan korupsi sampai keakar-akarnya, menjembatani kesenjangan sosial ekonomi, menghindari monopoli, menegakan keadilan dan kebenaran, mengenyahkan kemiskinan dan lain-lain. Namun dapat dibayangkan apa reaksi dan dampaknya bagi masyarakat, jika faktanya tidak sesuai dengan dengan tindakan. Berhasilnya suatu dakwah mencapai sasaran, apabila juru dakwah juga menjalankan moral serta etika Islamnya, yang ditunjukan oleh kadar keimanan dan ketakwaannya secara konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Moral dan etika pada hakikatnya bukanlah suatu yang dipaksakan dari luar, melainkan hadir dari dalam kesadaran diri atas dasar system nilai yang ditentukan oleh pengalaman batin dan akar budaya seseorang disuatu lingkungan masayarakat. Mohammad Nattsir dalam bukunya Fiqhud Dakwah, mengatakan bahwa ada tiga metode dakwah yang relevan disampaikan ditengah masyarakat. Yaitu dakwah bil lisan, dakwah bil kalam dan dakwah bilhal. Dalam prakteknya dewasa ini, baru dakwah bil lisan yang sering dilakukan. Sementara dakwah bil kalam dan bil hal masih jauh dari harapan. Itulah sebabnya kualitas dakwah hingga kini masih tetap memperihatinkan. Dakwah yang baik bukanlah dakwah yang bersifat menggurui, betapapun misalnya disampaikan oleh seseorang dengan kualifikasi yang cukup memiliki bobot, seorang juru dakwah yang baik, haruslah jujur pada dirinya sendiri terlebih dahulu. Bagaimana pesan yang terkandung dalam Al-Quran melalui dakwah dapat menggugah kesadaran dan menggerakan partisipasi khalayak pendengarnya, apabila disampaikan oleh orang yang dalam kedudukan dan jabatannya justeru memiliki citra satunya kata dengan tindakan. Bukan seperti model kampanye yang banyak mengubar janjinya, tapi belum tentu terealisasikan. Padahal kalau kita mau bercermin pada sejarah nabi, dalam teladan dakwahnya beliau senantiasa menunjukan satunya kata dengan tindakan. Nabi menunjukan adanya kesatuan antara ucapan dengan perbuatan. Beliau tidak hanya berdoa dan berkhutbah, tanpa melakukan aksi sosial kemasyarakatan. Mengkaji kembali sejrah nabi, ternyata beliaupun melakukan kegiatan kemasyarakatn, guna mewujudkan misi akbarnya. Dari teladan dakwah yang demikian, maka sesungguhnya dakwah bukanlah sekedar retorika belaka, tetapi harus mampu menjadi teladan tindakan sebagai dakwah pembangunan secara nyata. Lembaga dakwah tak hanya berpusat dimasjid, kampus, forum diskusi, pengajian dan semacvamnya. Dakwah harus mengalami desentralisasi kegiatan Karena dakwah Islam dibutuhkan oleh semua manusia maka hendaklah dakwah dilakukan dimana saja manusia berada tidak hanya dimasjid, madrasah, majlis taklim, atau tempat yang hari ini biasa dipergunakan dalam penyampaian dakwah Islam melainkan dakwah Islam pula harus dilakukan di permukaan kumuh, dipinggir kali, dipedesaan, dimana kemiskinan structural seakan takan dapat terlepaskan. Kearah sanalah tampaknya kegiata dakwah atau Ukhuwwah Islamiayah harus dilangkahkan. Itu juga berarti dakwah, dan ukhuwwah lebih direkayasa untuk menanggulangi gejala kekafiran yang membawa kekufuran pada lapisan bawah. Selain itu da’I pun hendaknya menghindari dairi dari keberpihakan. Da’I hendaknya mampu menunjukan dirinya sebagai milik umat dan menjadi teladan dalam mewujudkan kualitas Ukhuwah Islamiyah. Sebab realita yang ada saat ini, terutama pada musim kampanye, justeru dakwah terkotak-kotak pada kepentingan politik tertentu. Padahal sesungguhnya, da’I sebagai penyampai kebenaran ditengah umat, haruslah menjadi tauladan Ukhuwwah, bukan justeru sebaliknya, itulah sebaliknya. Itulah sebabnya, umat yang semakin kritris saat ini, sering menolak dan membenci kehadiran seorang da’i. karena ia terjebak pada kepentingan politik tertentu. Akibatnya yang lebih fatal adalah misi dkawah sebagai tujuan utama, gagal akibat tak mempunyai da’I memberi teladan Ukhuwah. Da’I sebagai teladan moralitas, juga dituntut lebih berkuaitas dan mampu menafsirkan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat. Sesuai dengan tuntutan pembangunan umat, maka da’I pun hendaknya tidak hanya terfokus pada maslaah-masalah agama semata, tapi mampu memberi jawaban dari tuntunan realita yang dihadapi masyarakat saat ini. DAKWAH ISLAM SEBAGAI KEWAJIBAN DAN KEBUTUHAN MANUSIA MAKALAH Diajukan dalam rangka memenuhi tugas Pengganti UAS pada mata kuliah Pilsafat Dakwah Disusun oleh: Aludin 204204289 FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI JURUSAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2006 DAFTAR PUSTAKA - KH. Abdurrahman Arroisi. Lazu Zaman Menatang Dakwah. Rosda Karya. Bandung. 1993 - Mursalin Dahlan. Dakwah suatu Jawabn. Pt Ma’arif. Bandung. 1977. - Drs. Hamdan Daulay, M.Si. Pengantar. Prof. Dr. Faisal Ismail, M.A. Dakwah ditengah Persoalan Budaya dan Politik.LESFI. Yogyakarta. 2001. - Sayyid Quthb. Islam Menyongsong Masa Depan. Shalahudin Pers. Yogyakarta. 1987. - Asep Muhidin, Agus Ahmad Safei, Metode Pengembangan Dakwah, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), hlm 27. - Ahmad Mansur Suryanegara, Dakwah Bagi Para Politisi, 1996, makalah terbatas
Wednesday, 5 March 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 comments:
Post a Comment